Dalam membuat asumsi lain yang terlalu berisiko. Semua,

Dalam pengkajiannya Hubungan Internasional memiliki beberapa perspektif yang berbeda, perspektif realisme merupakan salah satu contohnya. Realisme dalam ilmu Hubungan Internasional merupakan salah satu teori yang telah banyak mengalami perkembangan dan perdebatan. Perang dan keamanan yang berkaitan dengan militer dan kekuatan (power) adalah bahasan yang paling banyak dibahas oleh perspektif realis. Realisme berkembang atas pemikiran yang menyatakan ‘man is evil’. Negara merupakan aktor dalam perspektif realisme, yang artinya bisa dikatakan sebagai satu individual yang tidak akan bekerjasama dengan aktor lain tanpa ada maksud tertentu (self-interested) dan akan selalu berusaha untuk memperkuat dirinya sendiri.

Realisme menekankan kendala politik yang dipaksakan oleh sifat manusia dan tidak adanya pemerintah internasional. Bersama-sama mereka menjadikan hubungan internasional sebagian besar sebuah alam kekuasaan dan kepentingan.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

“Sifat alam manusia belum berubah sejak zaman klasik kuno” (Thompson 1985: 17). Dan sifat itu, menurut realis, pada intinya egois, dan dengan demikian cenderung mengarah pada amoralitas. Seperti Machiavelli katakan, dalam dunia politik “Harusnya kita anggap remeh bahwa semua orang jahat dan mereka akan selalu memberikan penghinaan terhadap keganasan yang ada dalam pikiran mereka saat menawarkan kesempatan” (1970: Buku I, bab 3).

Beberapa realis, seperti Reinhold Niebuhr (1944: 19) dan Hans Morgenthau (1946: 202), melihat klaim Machiavelli sebagian besar bersifat deskriptif. Banyak, seperti Machiavelli sendiri, hanya berpendapat bahwa ada cukup banyak egois untuk membuat asumsi lain yang terlalu berisiko. Semua, bagaimanapun, menekankan gairah egois dan kepentingan pribadi dalam politik (internasional). “Sangatlah penting untuk tidak membuat tuntutan yang lebih besar atas sifat manusia yang rapuh dapat dipuaskan” (Treitschke 1916: 590). “Sangat penting untuk tidak memiliki kepercayaan terhadap kodrat manusia. Iman seperti itu adalah ajaran sesat baru dan yang sangat mengerikan “(Butterfield 1949: 47).

Realisme merupakan teori yang dominan dalam Hubungan Internasional. Teori ini muncul tahun 1930an. Ada beberapa pemikir yang menyumbang teori klasik realism, yaitu Thucydides, Machiavelli, dan Thomas Hobbes. Dalam teori realism klasik terdapat beberapa ide pokok. Anarki merupakan sifat kekuatan politik yang dipercayai oleh realism. Mereka tidak percaya jika ada entitas lebih tinggi daripada negara yang mampu mengatur negara. Negara harus menyelamatkan dirinya sendiri agar dapat bertahan. Dalam mempertahankan keberadaannya, negara harus mampu untuk terus meningkatkan power mereka masing-masing. Power politik dan perang menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dalam hubungan internasional. Ketika sebuah negara meningkatkan powernya, negara lain akan melihat itu sebagai ancaman. Negara yang terancam pun akan berlomba untuk terus meningkatkan dan menyaingi power negara yan mengancam keberadaannya. Peristiwa ini menciptakan dilema keamanan (security dilemma) bagi masing-masing negara, karena ketika sebuah negara meningkatkan keamanannya atau powernya, hal itu dianggap sebagai ancaman bagi negara lain. Padahal hal tersebut belum tentu ditujukan untuk memerangi negara lain.

Hobbes berpendapat bahwa hal-hal tersebut sudah menjadi sifat alami dari sebuah negara. la mengemukakan bahwa manusia pada dasarnya hidup tanpa hukum atau lingkungan yang tidak kepemerintahan. Sifat anarki yang diyakini oleh realism tidak berarti bahwa negara hidup dalam ketidak beraturan atau chaos. Anarki lebih kepada tidak mengaku otoritas yang lebih tinggi daripada sebuah negara yang berdaulat itu sendiri. Contoh dari pemikiran Realis mengenai hal ini adalah Uni Eropa dimana setiap negara masih memegang kedaulatannya. Realisme memandang mengenai international politic yang bersifat kompetitif dan cenderung konfliktual. Negara berkonflik untuk bertahan (survive). Survive merupakan satu dari asumsi utama Realisme, selain survive kaum Realis menggunakan relative game daripada absolute game. Dalam hal ini Realisme melihat mendapatkan sedikit lebih baik daripada tidak mendapatkan sama sekali (Wardhani, 2014).

Sebagai perkembangan teori klasik realism, muncul teori neorealisme yang mana teori in hadir untuk mengkritik teori klasik realism. Teori neorealisme diprakasai oleh Kenneth Waltz. Waltz mengutarakan bahwa struktur internal dari sebuah negara tidak memilik dampak yang serius terhadap hubungan antarnegara. Ketidakpercayaan antarnegara bukan disebabkan oleh sifat alami manusia yang lahir tanpa adanya pemerintahan, namun itu disebabkan oleh sistem internasional tersebut yang anarki. Sistem internasional anarki ini membentuk perilaku negara untuk tidak yang percaya satu sama lain.

Jadi, pada dasarnya dalam teori realism, negara merupakan aktor yang paling dominan dalam hubungan Internasional. Hanya negara yang mampu berperan dalam Hubungan Internasional. Sistem Internasional yang anarki mempercayai bahwa tidak ada kekuatan dominan selain negara itu sendiri. Oleh karena itu, negara harus hidup di bawah sistem internasional yang anarki dan bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri. Negara bertahan hidup dengan meningkatkan powernya bagai kepentingan nasionalnya.

 

References
Burchill, Scott. (2001). Realism and Neo-realism dalam Scott Burchill et. al., “Theories of International Relations”. New York: Palgrave, pp. 70-102.
Dunne, Tim & Brian C. Schmidt. (2001). Realism dalam John Baylis and Steve Smith (eds.), “The Globalization of World Politics”. Oxford, pp. 141-161.
Jackson, Robert & Georg Sorensen. (1999). Introduction to International Relations. Oxford University Press, pp. 87-138.
Donelly, Jack. (2000). “Realism and International Relations”. United Kingdom: University Press, Cambridge, pp. 9-10
Wardhani, Baiq. (2014). Realisme, materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 13 Maret 2014.